skip to Main Content
+62 822-1122-6676 customercare@autoimuncare.com
Penyakit Diabetes – Penyebab, Gejala Dan Cara Mengatasinya

Penyakit Diabetes – Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Penyakit Diabetes?

Penyakit Diabetes (diabetes melitus) atau yang lebih dikenal orang dengan nama penyakit kencing manis atau penyakit gula merupakan penyakit yang disebabkan karena terjadinya kelainan pada proses metabolisme tubuh yang disebabkan karena banyak faktor.

Penyakit ini muncul karena kadar glukosa yang berlebihan pada dalam darah sehingga menyebabkan insulin dalam tubuh tidak bekerja dengan baik karena tidak mampu memecah glukosa. Glukosa sangat penting bagi kesehatan kita karena merupakan sumber energi utama bagi otak maupun sel-sel yang membentuk otot serta jaringan pada tubuh kita.

 

Jenis Penyakit Diabetes

1. Diabetes Melitus Tipe 1 (Insulin-Dependent Diabetes Mellitus)

Penyakit Diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Penyakit Diabetes melitus tipe 1 dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Sampai saat ini penyakit diabetes melitus tipe 1 tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan diet maupun olah raga. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.

Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada penyakit diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.

Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Selain harus menerima suntikan insulin setiap hari, penderita penyakit diabetes tipe 1 juga disarankan untuk menjaga kadar glukosa dalam darah agar tetap seimbang. Misalnya dengan menerapkan pola makan sehat dan menjalani tes darah secara rutin.

2. Diabetes Melitus Tipe 2 (Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus)

Merupakan tipe penyakit diabetes melitus yang terjadi bukan disebabkan oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen.

Penyakit Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih umum terjadi. Sekitar 90 persen penderita diabetes di dunia mengidap diabetes tipe ini.

Diabetes jenis ini disebabkan oleh kurangnya produksi insulin dalam tubuh atau sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Kekurangpekaan sel-sel tubuh ini dikenal dengan istilah resistensi terhadap insulin.

Gejala pada penderita diabetes tipe ini biasanya dapat dikendalikan dengan pola makan sehat dan memantau kadar glukosa dalam darah. Tetapi, tetaplah waspada karena penyakit ini akan terus berkembang dalam tubuh dan lambat laun akan membutuhkan langkah pengobatan.

Diabetes tipe 2 sering dihubungkan dengan obesitas. Memang tidak semua orang yang mengidap obesitas akan otomatis menderita diabetes tipe 2. Tetapi, makin tinggi indeks massa tubuh seseorang, maka risiko diabetes tipe ini juga meningkat. Diabetes akibat obesitas umumnya menyerang para manula.

3. Diabetes Melitus Gestasional (Latent Autoimmune Diabetes of Adults)

Diabetes melitus yang terjadi hanya selama kehamilan dan pulih setelah melahirkan. Pengidap diabetes ini besar kemungkinan dapat mengalami kerusakan dan kesehatan janin atau ibu, dan sekitar 20–50% dari wanita penderita diabetes jenis ini bisa bertahan hidup.

Diabetes melitus pada kehamilan terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. Diabetes melitus gestasional bersifat temporer dan dapat meningkat maupun menghilang setelah melahirkan. Diabetes melitus gestasional dapat disembuhkan, namun memerlukan pengawasan medis yang cermat selama masa kehamilan.

Meskipun penyakit diabetes melitus gestasional bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu. Risiko yang dapat dialami oleh bayi meliputi makrosomia (berat bayi yang tinggi/diatas normal), penyakit jantung bawaan dan kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka.

Peningkatan hormon insulin janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan. Hyperbilirubinemia dapat terjadi akibat kerusakan sel darah merah. Pada kasus yang parah, kematian sebelum kelahiran dapat terjadi, paling umum terjadi sebagai akibat dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan vaskular.

Induksi kehamilan dapat diindikasikan dengan menurunnya fungsi plasenta. Operasi sesar dapat akan dilakukan bila ada tanda bahwa janin dalam bahaya atau peningkatan risiko luka yang berhubungan dengan makrosomia, seperti distosia bahu.

Penderita diabetes tipe 1 yang hamil juga akan memiliki risiko tinggi karena dapat berdampak pada ibu serta janin. Sangatlah penting bagi penderita diabetes yang sedang hamil untuk menjaga keseimbangan kadar gula darahnya.

Ibu yang sedang hamil sebaiknya lebih cermat memantau kadar gula darah pada trimester kedua (minggu 14-26). Pada masa itulah diabetes kehamilan umumnya berkembang dan kemudian hilang setelah melahirkan. Meski demikian, risiko diabetes tipe 2 pada wanita yang pernah mengalami diabetes kehamilan adalah sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi pada umumnya.

 

Penyebab Diabetes

A. Penyebab Diabetes Tipe 1

Pada diabetes tipe 1, sistem imun yang normalnya berfungsi untuk melawan bakteri atau virus malah menyerang hormon insulin. Kondisi ini membuat penderita kekurangan atau bahkan tidak memiliki insulin. Dimana gula seharusnya dihantarkan ke dalam sel, namun gula akan menumpuk di dalam aliran darah.

B. Penyebab Prediabetes dan Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 terjadi pada saat organ pankreas dalam tubuh penderita tidak memproduksi relatif cukup insulin untuk mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal. Penyebab lainnya adalah sel-sel tubuh yang menjadi kurang peka terhadap insulin atau yang dikenal dengan istilah resistensi terhadap insulin.

Kadar gula darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas. Insulin berfungsi untuk memindahkan gula dari darah ke sel-sel tubuh yang akan mengubahnya menjadi energi.

Terdapat sejumlah faktor di balik kurangnya produksi insulin dalam diabetes tipe 2. Beberapa faktor risiko tersebut meliputi:

  1. Faktor Usia. Risiko diabetes tipe 2 akan makin tinggi seiring bertambahnya usia. Ini mungkin dipicu oleh berat badan yang cenderung bertambah dan frekuensi olahraga yang berkurang saat kita makin tua. Diabetes jenis ini umumnya menyerang orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas. Risiko orang beretnis Asia bahkan tinggi, yaitu pada usia 25 tahun ke atas.
  2. Pengaruh Faktor Keturunan. Memiliki anggota keluarga (terutama keluarga inti seperti ayah, ibu, dan saudara kandung) yang menderita diabetes juga akan meningkatkan risiko. Risiko bagi anak-anak dengan ayah atau ibu penderita diabetes tipe 2 juga sepertiga lebih tinggi untuk terkena diabetes.
  3. Dampak Berat Badan. Risiko diabetes tipe 2 lebih tinggi pada orang yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Mengukur pinggang untuk mengecek tumpukan lemak di bagian ini adalah cara tersignifikan untuk mengukur risiko diabetes. Yang berisiko lebih tinggi adalah wanita dengan ukuran pinggang 80 cm atau lebih serta pria Asia dengan ukuran pinggang 90 cm atau lebih.
  4. Faktor Etnis. Etnis Asia memiliki risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi.
  5. Pradiabetes. Kondisi kadar gula darah yang selalu melebihi normal, tapi belum mencapai tahap diabetes. Jika mengalami kondisi ini, maka risiko berkembang menjadi diabetes juga semakin meningkat.
  6. Diabetes Gestasional. Wanita yang pernah mengalami kondisi ini memiliki risiko mengidap diabetes tipe 2 yang lebih tinggi.

C. Penyebab Diabetes Gestational

Diabetes saat kehamilan, plasenta memproduksi hormon untuk menopang kehamilan. Hormon ini membuat sel lebih resisten terhadap insulin. Seiring pembesaran plasenta pada tiga bulan kedua dan ketiga, maka hormon tersebut semakin banyak dihasilkan.

Normalnya pankreas akan merespon dengan menghasilkan lebih banyak insulin. Tetapi terkadang pankreas justru tidak mampu meresponnya. Ini membuat glukosa banyak menumpuk di darah dan tidak terserap ke dalam sel.

 

Gejala Diabetes

Gejala klasik diabetes tipe 2 sama dengan diabetes tipe 1, yaitu:

  1. Sering buang air kecil, terutama di malam hari
  2. Sering merasa haus
  3. Rasa lapar yang bertambah

Selain itu, gejala-gejala ini juga bisa menyertai gejala klasik, antara lain:

  1. Turunnya berat badan
  2. Luka yang lambat sembuh atau sering mengalami infeksi
  3. Gatal-gatal
  4. Pandangan yang kabur
  5. Sering kelelahan
  6. Terdapat kotoran di urine
  7. Sering kesemutan di kaki dan tangan
  8. Tekanan darah tinggi

Gejala-gejala ini timbul setelah gula darah meningkat di dalam darah selama beberapa waktu tertentu. Awalnya, gejala diabetes tipe 2 cenderung ringan. Oleh sebab itu, banyak penderitanya yang sering tidak menyadari bila mereka sudah mengidap penyakit ini.

Bila kadar gula darah terus meningkat dan menjadi terlalu tinggi (hiperglikemia), maka akan timbul:

  1. Mulut kering dan merasa sangat haus
  2. Sering buang air kecil
  3. Infeksi yang sering kambuh, contohnya sariawan serta infeksi kandung kemih
  4. Pingsan
  5. Tekanan darah rendah

Diagnosis dan pengobatan diabetes secara dini dapat mengurangi risiko komplikasi. Konsultasikanlah kepada dokter sesignifikannya jika mengalami gejala diabetes.

 

Komplikasi Penyakit Diabetes

Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Pada akhirnya diabetes bisa mengakibatkan sejumlah komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Peningkatan kadar gula darah yang tidak signifikan dan meski tidak memicu gejala pun dapat mengakibatkan dampak secara jangka panjang.

Komplikasi diabetes dibedakan menjadi jangka pendek dan jangka panjang. Terlepas dari seberapa signifikan komplikasi ini berkembang, kurangnya perawatan mungkin mengancam kehidupan.

Komplikasi jangka pendek diabetes berkembang dengan signifikan dan mencakup tingkat darah tinggi gula, kadar gula darah rendah dan ketoasidosis diabetes, di mana darah menjadi asam. Kondisi ini terjadi ketika tubuh memecah lemak untuk energi karena sel-sel tidak memiliki akses ke glukosa.

Komplikasi jangka panjang dari diabetes terjadi karena kadar glukosa darah tinggi merusak pembuluh darah dalam tubuh dari waktu ke waktu.

Beberapa komplikasi ini termasuk:

A. Penyakit Jantung dan Stroke

Penderita diabetes memiliki risiko lima kali lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung atau stroke. Keseimbangan kadar gula darah yang dibiarkan tidak terjaga dalam waktu cukup lama bisa meningkatkan risiko aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah yang biasanya terjadi akibat akumulasi kolesterol.

Komplikasi ini memiliki risiko-risiko sebagai berikut:

  1. Menyebabkan serangan jantung atau stroke karena peningkatan risiko penyumbatan pembuluh darah pada jantung atau otak.
  2. Menghambat aliran darah ke jantung dan menyebabkan serangan angina (angin duduk). Serangan angina terindikasi dengan adanya sakit dada yang terasa menekan.

B. Kerusakan Neuropati (Saraf)

Kadar gula darah yang berlebihan dapat merusak saraf dan pembuluh darah halus. Hal ini dapat menyebabkan sensasi kesemutan atau terbakar yang biasa berawal dari ujung jari tangan dan kaki lalu menyebar ke bagian tubuh lain.

Selain itu, komplikasi saraf ini bisa membuat kaki menjadi mati rasa sehingga tidak terasa sakit saat terluka dan akhirnya mengakibatkan borok. Kerusakan saraf yang menyerang sistem pencernaan dapat menyebabkan rasa mual, muntah, diare, atau konstipasi.

C. Kerusakan pada Organ Kaki

Kerusakan pada saraf atau terhambatnya aliran darah pada kaki penderita diabetes bisa meningkatkan risiko komplikasi kesehatan kaki yang biasanya terlambat disadari. Ada sekitar 10% penderita diabetes yang mengalami infeksi serius akibat luka atau sekadar goresan kecil pada kaki.

Penderita yang telah mengalami kerusakan saraf sebaiknya memeriksakan kakinya tiap hari dan mengkonsultasikan perubahan yang dirasakan kepada dokter. Komplikasi pada kaki yang harus diwaspadai antara lain:

  1. Pembengkakan
  2. Kulit yang terasa panas saat disentuh
  3. Luka yang tidak kunjung sembuh

D. Kerusakan Retina

Retinopati muncul saat terjadi masalah pada pembuluh darah di retina (jaringan pada mata yang sensitif terhadap cahaya) yang dapat mengakibatkan kebutaan jika dibiarkan. Pembuluh darah tersebut dapat bocor, tersumbat, atau tumbuh secara acak sehingga menghalangi cahaya untuk sampai ke retina.

Lakukanlah pemeriksaan mata secara rutin tiap tahun. Jika ada kerusakan serius, kamu akan dirujuk ke dokter spesialis mata agar dapat ditangani sesignifikannya. Keseimbangan kadar gula darah yang terjaga dengan baik juga bisa menurunkan risiko.

Retinopati diabetik yang terdeteksi sejak dini dapat ditangani dengan operasi laser. Tetapi penanganan ini hanya bertujuan untuk mempertahankan daya penglihatan yang tersisa dan bukan untuk mengatasi.

E. Kerusakan Ginjal

Ginjal memiliki jutaan pembuluh darah halus yang menyaring limbah dari darah. Jika pembuluh darah halus tersebut tersumbat atau bocor, kinerja ginjal bisa menurun. Komplikasi ini biasanya juga berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Sangatlah penting untuk memilih penanganan yang akurat.

Kerusakan parah pada ginjal bahkan dapat menyebabkan gagal ginjal. Jika mengalami gagal ginjal, kamu membutuhkan dialisis (proses pengobatan yang meniru fungsi ginjal) atau bahkan transplantasi ginjal.

F. Komplikasi yang Menyebabkan Disfungsi Seksual

Kerusakan pembuluh darah halus serta saraf pada para penderita diabetes pria (terutama perokok) dapat mengakibatkan disfungsi ereksi. Gangguan ini biasanya dapat diatasi dengan obat-obatan.

Penderita diabetes wanita juga dapat mengalami gangguan disfungsi seksual, misalnya:

  1. Kepuasan seksual yang menurun
  2. Kurangnya gairah seks
  3. Vagina yang kering
  4. Rasa sakit saat berhubungan intim
  5. Gagal mencapai orgasme

Penderita diabetes wanita yang mengalami kekurangan cairan vagina atau merasa sakit saat berhubungan intim dapat menggunakan pelumas atau gel.

G. Keguguran dan Kelahiran Mati

Kadar gula darah yang tinggi dapat membahayakan sang ibu dan janin. Risiko keguguran dan kelahiran mati akan meningkat jika diabetes pada ibu hamil tidak ditangani dengan saksama. Kadar gula darah yang tidak dijaga dengan baik pada awal kehamilan juga bisa mempertinggi risiko cacat lahir.

Ibu hamil yang menderita diabetes dianjurkan untuk memeriksakan kondisi diabetesnya secara teratur kepada dokter spesialis obstetri, rumah sakit, atau klinik. Konsultasi rutin ini akan mempermudah dokter untuk memantau kadar gula darah sang ibu, termasuk mengendalikan dosis insulin yang harus diberikan, dan perkembangan janin.

 

Pengobatan Diabetes

Pengobatan diabetes terbagi menjadi dua jenis yakni:

  1. Pengobatan diabetes secara medis
  2. Pengobatan diabetes secara alami

 

Pencegahan Penyakit Diabetes

Setelah mengetahui betapa mengerikannya penyakit diabetes, berikut info penting seputar pencegahan penyakit diabetes:

1. Mengurangi porsi makan

Mengurangi porsi makan setiap hari bisa menjadi cara terbaik untuk menghindari tanda penyakit diabetes.

2. Olahraga

Jika telah mengetahui tanda penyakit diabetes dengan berolahraga setiap hari membantu menjaga berat badan yang sehat, menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Jadi, berolahragalah setiap hari selama minimal 30 menit untuk menjaga tingkat gula darah dalam rentang normal.

3. Tips menurunkan berat badan

Berat badan berlebih dapat menjadi memperbesar risiko seseorang terkena diabetes. Jadi, pastikan bahwa dapat menurunkan berat badan dan menjaganya tetap normal.

4. Sarapan sangat penting

Tidak peduli seberapa bencinya pada sarapan, sangat penting untuk sarapan setiap hari. Hal itu membantu mengurangi risiko terkena diabetes. Makan sarapan yang sehat tidak hanya membantu mengontrol nafsu makan, tetapi juga membantu mengontrol konsumsi kalori.

5. Hindari makanan berlemak

Junk food dan makanan yang biasa dibeli di jalan umumnya tinggi lemak jenuh, yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat di tubuh. Ini pada gilirannya juga dapat mempengaruhi tingkat gula darah dalam tubuh. Jadi, hindari junk food dan makanan berlemak lainnya.

6. Hindari minuman manis

Soda, minuman ringan atau berperasa dapat meningkatkan risiko terkena diabetes. Semua minuman berpemanis merupakan sumber gula yang tak terlihat, yang dapat meningkatkan kadar gula darah.

7. Makan banyak sayuran

Daging memang lezat, namun tidak harus memakannya setiap hari, karena dapat menimbulkan risiko diabetes. Dengan demikian, perbanyak konsumsi sayuran setiap hari. Mereka akan membantu menghindari diabetes.

8. Hindari stres

Stres yang berlebihan dapat meningkatkan kadar gula darah. Jadi, kurangi tingkat stres dengan berlatih yoga, meditasi atau latihan pernapasan.

9. Tidur nyenyak

Mendapatkan setidaknya enam jam tidur di malam hari sangat penting untuk menghindari dari tanda penyakit diabetes. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh, yang dapat meningkatkan tingkat insulin dan menyebabkan ketidakseimbangan gula darah. Selain itu, tidur yang tidak nyenyak juga bisa membuat nafsu makan menggila.

Apa Itu DiabetCare?

DiabetCare adalah formula herbal dengan harga ekonomis yang dapat mengatasi penyakit diabetes. Dengan penelitian formula herbal nanotechnology selama puluhan tahun membuat DiabetCare banyak dicari di dalam maupun luar negeri.

DiabetCare memiliki kandungan antibiotik alami yang mampu membersihkan racun dalam darah, memperbaiki sel-sel yang rusak (regenerasi sel), bersifat antipiretik, analgesic, dan diuretic. Sangat berkhasiat dan signifikan menurunkan gula darah.